GEGER! Mayoritas Warga Amerika Minta Trump DIHUKUM? Ini Kisah Pemakzulan Paling Kontroversial!
- account_circle Redaksi TilongKabila
- calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Suara riuh publik Amerika Serikat terkait pemakzulan mantan Presiden Donald Trump memang menjadi salah satu episode paling dramatis dalam sejarah politik modern Paman Sam.
Faktanya, selama masa kepresidenannya, sentimen untuk memakzulkan Trump terus bergelora, bahkan mencapai puncaknya hingga dua kali proses pemakzulan resmi dilayangkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
Apa Itu Pemakzulan (Impeachment) di Amerika Serikat?
Pemakzulan adalah proses konstitusional di mana badan legislatif mengajukan tuduhan terhadap pejabat sipil pemerintah karena ‘kejahatan dan pelanggaran berat’ (high crimes and misdemeanors).
Ini bukanlah pemecatan langsung, melainkan semacam dakwaan politik yang berpotensi berujung pada pencopotan jabatan jika disetujui oleh dua pertiga Senat setelah persidangan.
Proses Pemakzulan: DPR vs. Senat
Proses ini dimulai di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yang memiliki kekuasaan tunggal untuk memakzulkan. Jika mayoritas DPR menyetujui pasal-pasal pemakzulan, kasus tersebut kemudian beralih ke Senat.
Di Senat, anggota dewan akan bertindak sebagai juri, sementara anggota DPR yang disebut “manajer” akan berfungsi sebagai jaksa. Presiden AS yang dimakzulkan akan diadili dan memerlukan dua pertiga suara Senat untuk dicopot dari jabatan.
Dua Kali Sejarah: Donald Trump dan Pemakzulan
Donald Trump mencetak sejarah sebagai satu-satunya presiden Amerika Serikat yang dimakzulkan sebanyak dua kali oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
Kedua upaya ini mencerminkan polarisasi politik yang mendalam dan perdebatan sengit tentang batasan kekuasaan eksekutif.
Impeachment Pertama: Skandal Ukraina (2019)
Pemakzulan pertama Trump dipicu oleh tuduhan penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi Kongres. Ini berpusat pada panggilan teleponnya dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Trump dituduh menekan Ukraina untuk menyelidiki Joe Biden, lawan politiknya, sebagai imbalan atas bantuan militer yang telah disetujui Kongres.
Dewan Perwakilan Rakyat, yang saat itu mayoritasnya dikuasai Demokrat, menyetujui dua pasal pemakzulan pada Desember 2019.
Namun, Senat yang didominasi Republik kemudian membebaskan Trump dari semua tuduhan pada Februari 2020. Jajak pendapat saat itu menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat Amerika, khususnya dari kalangan Demokrat dan independen, percaya bahwa Trump telah menyalahgunakan kekuasaannya.
Impeachment Kedua: Serangan Capitol (2021)
Pemakzulan kedua terjadi hanya beberapa hari sebelum masa jabatannya berakhir, menyusul kerusuhan di Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.
Trump dituduh “menghasut pemberontakan” dengan pidatonya yang mendorong para pendukungnya untuk berbaris ke Capitol dalam upaya menghentikan sertifikasi kemenangan Joe Biden.
Dewan Perwakilan Rakyat sekali lagi menyetujui pasal pemakzulan, menjadikannya presiden pertama dalam sejarah AS yang dimakzulkan dua kali.
Sekali lagi, Senat membebaskan Trump dari tuduhan ini pada Februari 2021, meskipun tujuh senator Republik memilih untuk menghukumnya, jumlah tertinggi senator dari partai presiden yang memilih untuk menghukum presiden mereka sendiri.
Dibalik Angka: Opini Publik yang Terbelah
Pernyataan bahwa “sebagian besar rakyat Amerika Serikat setuju bila Presiden mereka, Donald Trump dimakzulkan” memang didukung oleh beberapa jajak pendapat, terutama pada momen-momen tertentu.
Namun, penting untuk melihat konteks polarisasi politik yang ekstrem di AS. Dukungan untuk pemakzulan sangat bervariasi berdasarkan afiliasi partai.
Sebagai contoh, jajak pendapat selama pemakzulan pertama menunjukkan bahwa sekitar 50% hingga 55% publik mendukung pencopotan Trump. Angka ini seringkali didorong oleh dukungan mayoritas Demokrat dan independen, sementara mayoritas Republik menentang keras.
Setelah serangan Capitol, dukungan untuk pemakzulan dan pencopotan Trump sempat melonjak, bahkan di kalangan beberapa pemilih Republik.
Namun, seiring waktu, dukungan tersebut cenderung kembali ke pola partisan yang lebih familier, di mana basis pendukung Trump tetap solid.
Mengapa Opini Publik Sangat Penting?
Opini publik memiliki peran krusial dalam politik Amerika. Meskipun proses pemakzulan bersifat konstitusional, tekanan dari publik dapat memengaruhi keputusan politisi, terutama di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat.
Partai-partai politik sering kali mempertimbangkan sentimen pemilih mereka ketika mengambil suara pada isu-isu sensitif seperti pemakzulan, karena ini dapat berdampak pada hasil pemilihan umum berikutnya.
Dampak dan Warisan Sejarah: Mengubah Lanskap Politik AS
Dua pemakzulan Donald Trump telah meninggalkan jejak mendalam dalam lanskap politik Amerika Serikat. Ini menciptakan preseden tentang batas-batas kekuasaan presiden dan akuntabilitas.
Kasus-kasus ini juga memperburuk polarisasi politik yang sudah ada, memperdalam jurang pemisah antara dua partai besar dan basis pemilih mereka.
“Peristiwa pemakzulan Trump bukan hanya tentang seorang presiden, tetapi tentang fondasi demokrasi kita dan sejauh mana kita bersedia melindunginya,” kata seorang analis politik terkemuka.
Meskipun Trump tidak pernah dicopot dari jabatannya, proses pemakzulan itu sendiri berfungsi sebagai teguran serius dari cabang legislatif.
Ini mengirimkan pesan bahwa tidak ada presiden yang berada di atas hukum, meskipun implementasinya seringkali dipengaruhi oleh dinamika politik partisan.
Opini dan Analisis Tambahan: Pemakzulan Sebagai Alat Politik?
Banyak pengamat berpendapat bahwa pemakzulan telah beralih dari alat konstitusional yang jarang digunakan untuk kejahatan serius menjadi senjata politik yang lebih sering digunakan oleh partai oposisi.
Penggunaan pemakzulan terhadap Trump, dua kali dalam empat tahun, memperkuat argumen ini dan memicu kekhawatiran tentang “normalisasi” proses tersebut.
Meski demikian, para pendukung pemakzulan berargumen bahwa tindakan Trump, terutama setelah pemilihan 2020 dan insiden Capitol, memang melampaui batas dan memerlukan respons serius dari Kongres.
Debat ini kemungkinan akan terus berlanjut di masa depan, saat politik Amerika terus bergulat dengan warisan era Trump dan implikasi konstitusional dari peristiwa-peristiwa tersebut.
Pada akhirnya, keinginan sebagian besar rakyat untuk memakzulkan Donald Trump adalah cerminan dari ketidakpuasan mendalam terhadap kepemimpinannya di sebagian segmen masyarakat. Fenomena ini akan terus dipelajari sebagai babak krusial dalam sejarah demokrasi Amerika Serikat.
Penulis Redaksi TilongKabila
Tilongkabila.id: Bicara Fakta, Bukan Retorika. Media independen yang berani mengupas tuntas isu publik secara kritis, tajam, dan transparan tanpa kompromi.

Saat ini belum ada komentar