Misteri Benteng Otanaha Gorontalo: Benarkah Pakai Putih Telur?
- account_circle Redaksi TilongKabila
- calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Indonesia menyimpan berbagai peninggalan bersejarah yang dipenuhi kisah unik sekaligus misteri. Salah satunya berada di wilayah Gorontalo.
Sebuah bangunan peninggalan bangsa Portugis bernama Benteng Otanaha hingga kini masih berdiri kokoh. Benteng ini menjadi salah satu ikon wisata sejarah yang paling menarik perhatian masyarakat.
Hal yang paling memicu rasa penasaran adalah rumor mengenai material pembangunannya. Konon katanya, benteng bersejarah ini direkatkan bukan dengan semen, melainkan menggunakan putih telur burung.
Menelusuri Sejarah Benteng Otanaha
Benteng Otanaha terletak di Kelurahan Dembe I, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo. Bangunan ini memiliki letak yang sangat strategis di atas perbukitan hijau.
Berdasarkan catatan sejarah, benteng ini dibangun pada abad ke-16, tepatnya sekitar tahun 1522. Pembangunannya diinisiasi atas kesepakatan antara Raja Ilato dari Gorontalo dan bangsa Portugis.
Pada masa itu, bangsa Portugis datang ke Nusantara untuk mencari rempah-rempah. Mereka kemudian membantu mendirikan benteng pertahanan ini guna menghalau ancaman dari musuh.
Misteri Perekat Putih Telur Burung Maleo
Kisah paling menonjol dari Benteng Otanaha adalah material perekat batunya. Masyarakat setempat secara turun-temurun percaya bahwa benteng ini dibangun menggunakan putih telur.
Bukan sembarang telur, konon bahan yang digunakan berasal dari telur burung Maleo. Burung endemik Pulau Sulawesi ini dipercaya memiliki telur dengan daya rekat yang luar biasa.
Putih telur tersebut dicampur dengan pasir dan kapur untuk menggantikan fungsi semen. Meski terdengar seperti mitos, nyatanya teknik serupa kerap ditemukan pada bangunan kuno lainnya di berbagai belahan dunia.
Fakta Material Bangunan Kuno
Hingga saat ini, belum ada penelitian ilmiah yang secara mutlak membuktikan keberadaan sisa putih telur di struktur Benteng Otanaha. Namun, legenda ini tetap menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan.
Penggunaan material organik seperti putih telur atau getah pohon memang umum digunakan sebelum semen modern ditemukan. Hal ini menunjukkan tingginya kearifan lokal masyarakat dan arsitek pada masa lampau.
Keistimewaan Kompleks Benteng di Gorontalo
Selain cerita unik di balik pembuatannya, kawasan bersejarah ini juga menawarkan pesona alam yang memanjakan mata. Pengunjung harus menaiki ratusan anak tangga untuk bisa mencapai puncak bukit.
Di kawasan ini sebenarnya tidak hanya terdapat satu benteng saja. Kompleks pertahanan kuno ini terdiri dari tiga bangunan utama yang memiliki nama dan fungsi berbeda-beda.
- Benteng Otanaha: Merupakan bangunan utama yang ukurannya paling besar dan menjadi pusat pertahanan militer.
- Benteng Otahiya: Bangunan kedua yang letaknya berdekatan dan berfungsi sebagai benteng pendukung.
- Benteng Ulupahu: Bangunan ketiga yang ukurannya lebih kecil, biasa digunakan untuk memantau pergerakan musuh dari kejauhan.
Dari atas kompleks benteng ini, para pengunjung akan disuguhkan pemandangan Danau Limboto yang sangat indah. Lanskap alam perairan ini menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu wilayah Gorontalo.
Entah mitos penggunaan putih telur tersebut benar seratus persen atau sekadar pelengkap cerita rakyat semata, Benteng Otanaha tetaplah warisan budaya peninggalan Portugis yang tak ternilai harganya. Kelestariannya wajib terus dijaga oleh generasi penerus agar jejak sejarah Nusantara tidak perlahan punah.
Artikel ini disadur dan ditulis ulang. Sumber: travel.detik.com
Penulis Redaksi TilongKabila
Tilongkabila.id: Bicara Fakta, Bukan Retorika. Media independen yang berani mengupas tuntas isu publik secara kritis, tajam, dan transparan tanpa kompromi.

Saat ini belum ada komentar