Terungkap! Tradisi Kuno Jepang: Lomba Menangis Bayi yang Bikin Geleng-Geleng!
- account_circle Redaksi TilongKabila
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di jantung budaya Jepang yang kaya akan tradisi unik, tersembunyi sebuah ritual yang mungkin terdengar aneh, namun penuh makna mendalam. Bayangkan sebuah arena di mana tangisan nyaring bayi justru dianggap sebagai tanda keberuntungan dan kesehatan.
Inilah tradisi Nakizumo, sebuah perayaan kuno yang mempertemukan para bayi dalam sebuah “kompetisi” menangis, dengan harapan membawa berkah bagi kehidupan mereka di masa depan.
Apa Itu Tradisi Nakizumo?
Nakizumo, secara harfiah berarti “gulat tangis”, adalah festival tahunan di Jepang yang melibatkan bayi berusia di bawah satu tahun. Acara ini bukan sekadar perlombaan biasa, melainkan sebuah ritual yang diyakini secara turun-temurun membawa kebaikan.
Tujuan utamanya adalah agar bayi menangis sekencang-kencangnya dan selama mungkin. Semakin keras dan lama tangisan bayi, konon semakin sehat dan kuat pula ia tumbuh dewasa kelak, serta terhindar dari pengaruh roh jahat.
Sejarah dan Akar Budaya Nakizumo
Tradisi Nakizumo diperkirakan telah ada selama lebih dari 400 tahun, berakar kuat dalam kepercayaan Shinto, agama asli Jepang. Ritual ini sering dikaitkan dengan doa untuk pertumbuhan anak yang sehat dan panen yang melimpah.
Pada masa lalu, tingkat kematian bayi cukup tinggi, sehingga ritual semacam ini menjadi bentuk permohonan spiritual dari orang tua kepada dewa-dewi. Mereka percaya bahwa suara tangisan bayi yang kuat dapat menarik perhatian para dewa untuk melindungi buah hati mereka.
Bagaimana Tradisi Nakizumo Dilaksanakan?
Pelaksanaan Nakizumo adalah tontonan yang menarik sekaligus menghibur. Acara ini biasanya digelar di kuil-kuil Shinto di berbagai penjuru Jepang, dengan kuil Sensoji di Tokyo sebagai salah satu lokasi paling terkenal.
Ratusan orang tua datang membawa bayi mereka, mendaftarkan diri agar buah hati mereka bisa ikut serta dalam ritual kuno yang penuh kegembiraan ini.
Peran Pegulat Sumo sebagai “Penakut”
Inti dari tradisi ini melibatkan para pegulat sumo amatir atau pensiunan yang bertugas untuk membuat bayi menangis. Mereka mengenakan pakaian tradisional sumo, mawashi, dan berhadapan dengan bayi-bayi di atas ring sumo mini.
Bukan dengan kekerasan, tentu saja, melainkan dengan cara yang unik dan kadang lucu. Mereka mengangkat bayi-bayi tinggi-tinggi, menggoncangkan tubuhnya pelan, atau bahkan membuat ekspresi wajah lucu.
Teknik “Menakut-nakuti” Bayi
Beberapa pegulat bahkan mengenakan topeng iblis Oni yang menakutkan, atau mengeluarkan suara-suara aneh seperti “Naki! Naki! Naki!” yang berarti “Menangis! Menangis! Menangis!”. Semua ini dilakukan untuk memancing reaksi tangisan dari si bayi.
Jika bayi tak kunjung menangis, terkadang wasit atau orang tua diizinkan untuk membantu dengan mencoba memancing tangisan. Tujuannya adalah memastikan setiap bayi berhasil mengeluarkan suara tangisnya.
Penilaian dan Pemenang
Meskipun disebut lomba, Nakizumo sebenarnya tidak memiliki “pemenang” dalam arti konvensional. Bayi yang menangis paling keras atau paling lama dianggap telah berhasil memenuhi tujuan ritual.
Semua bayi yang berpartisipasi dan menangis dianggap sebagai pemenang sejati, karena mereka telah menyelesaikan ritual penting yang diyakini membawa kesehatan dan perlindungan.
Makna di Balik Tangisan Bayi yang Menggema
Di balik keriuhan dan tawa para penonton, tersimpan filosofi mendalam. Tangisan bayi dalam tradisi Nakizumo bukanlah tanda kesedihan atau penderitaan, melainkan simbol vitalitas dan kekuatan hidup.
Ada pepatah Jepang yang mengatakan “Naku ko wa sodatsu”, yang berarti “Bayi yang menangis akan tumbuh besar”. Ini mencerminkan keyakinan bahwa tangisan adalah indikator kesehatan yang baik dan kemampuan bayi untuk mengekspresikan diri.
Selain itu, dipercaya bahwa tangisan yang keras dapat mengusir roh jahat (oni) yang berpotensi mengganggu kesehatan dan perkembangan bayi. Ini adalah bentuk perlindungan spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Nakizumo di Mata Dunia Modern
Meskipun tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad, Nakizumo tidak lepas dari sorotan dan berbagai interpretasi di era modern. Beberapa orang mungkin melihatnya sebagai praktik yang sedikit aneh atau berpotensi menakut-nakuti bayi.
Namun, bagi sebagian besar masyarakat Jepang, khususnya para orang tua yang berpartisipasi, Nakizumo tetap dipandang sebagai perayaan yang positif dan penuh kasih. Mereka percaya pada niat baik di balik ritual tersebut, yaitu mendoakan yang terbaik bagi anak-anak mereka.
Banyak juga yang melihatnya sebagai kesempatan langka untuk merayakan kebudayaan dan tradisi yang unik, serta berbagi momen kebersamaan antar keluarga. Ini adalah pengingat akan akar spiritual yang masih kuat dalam masyarakat modern Jepang.
Opini Pribadi: Sebuah Perayaan Kehidupan yang Unik
Sebagai seorang pengamat, saya melihat Nakizumo bukan hanya sekadar “lomba” menangis, melainkan sebuah manifestasi indah dari harapan orang tua. Ini adalah cara unik untuk merayakan awal kehidupan, di mana setiap tangisan dianggap sebagai afirmasi positif untuk masa depan yang cerah.
Meskipun metode yang digunakan terkesan “ekstrem” dengan pegulat sumo dan topeng iblis, niat dasarnya adalah murni. Ini adalah cerminan dari bagaimana budaya dapat menemukan cara-cara kreatif untuk menyalurkan doa dan harapan, bahkan melalui hal yang paling alami seperti tangisan bayi.
Pada akhirnya, tradisi Nakizumo mengingatkan kita bahwa kebahagiaan dan keberuntungan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, bahkan dalam suara tangisan yang paling nyaring sekalipun. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari mozaik budaya Jepang yang selalu menarik untuk dipelajari.
Penulis Redaksi TilongKabila
Tilongkabila.id: Bicara Fakta, Bukan Retorika. Media independen yang berani mengupas tuntas isu publik secara kritis, tajam, dan transparan tanpa kompromi.

Saat ini belum ada komentar