VIRAL: JPU Pertanyakan Istilah Inggris Videografer, Bukti Gap Generasi & Industri Kreatif?
- account_circle Citra Lestari
- calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sebuah video mendadak viral di media sosial, menampilkan momen tak biasa di ruang sidang. Jaksa Penuntut Umum (JPU) terlihat mempertanyakan beberapa istilah berbahasa Inggris yang tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) seorang videografer bernama Amsal.
Momen ini sontak memicu kegeraman warganet dan menjadi perbincangan hangat. Banyak yang beranggapan bahwa istilah-istilah tersebut adalah bagian tak terpisahkan dari standar baku di industri kreatif.
Kejadian ini bukan sekadar insiden kecil, melainkan cerminan dari kesenjangan pemahaman yang lebih luas antara sektor hukum tradisional dan dinamika pesat industri modern, khususnya bidang kreatif.
JPU Bingung, Warganet Geram: Detil Kontroversi di Ruang Sidang
Dalam video yang tersebar luas, JPU secara spesifik menyoroti penggunaan kata-kata seperti “footage”, “post-production”, atau “storyboard” dalam dokumen RAB. JPU menunjukkan kebingungan dan meminta penjelasan terkait makna dari istilah-istilah tersebut.
Pertanyaan ini muncul dalam konteks persidangan yang seharusnya berfokus pada substansi kasus. Namun, perhatian justru beralih ke ranah pemahaman bahasa dan terminologi industri yang sangat spesifik.
Situasi ini menciptakan ketegangan yang nyata antara pemahaman tradisional dalam sistem hukum dengan dinamika modern industri kreatif. Ini menunjukkan adanya jurang komunikasi yang perlu segera dijembatani agar tidak terjadi kesalahpahaman yang merugikan.
Mengapa Istilah Inggris Begitu Penting di Industri Kreatif?
Standardisasi Global dan Evolusi Teknologi
Penggunaan istilah berbahasa Inggris dalam industri kreatif, khususnya videografi dan perfilman, bukanlah hal baru. Ini adalah cerminan dari sifat global industri tersebut yang sangat dinamis dan cepat berubah.
Banyak teknologi, perangkat lunak, dan metodologi kerja profesional berasal dari negara-negara berbahasa Inggris. Akibatnya, terminologi aslinya diadopsi secara luas di seluruh dunia tanpa diterjemahkan.
Standardisasi ini sangat memudahkan komunikasi antar profesional dari berbagai negara dan latar belakang. Ini juga memastikan pemahaman yang seragam terhadap proses dan hasil kerja yang seringkali kompleks dan teknis.
Bahasa Inggris telah menjadi lingua franca teknologi dan inovasi. Membuatnya tak terpisahkan dari perkembangan industri kreatif yang sangat bergantung pada keduanya.
Contoh Istilah Umum dan Artinya yang Sering Digunakan
Berikut adalah beberapa istilah umum yang sering ditemui dalam RAB, kontrak, atau komunikasi sehari-hari di industri videografi, beserta penjelasannya:
- Footage: Merujuk pada rekaman video mentah atau hasil syuting yang belum diedit. Ini adalah bahan dasar sebelum proses pascaproduksi dilakukan.
- Post-production: Tahap setelah syuting selesai, meliputi editing video, koreksi warna (color grading), penambahan efek visual (VFX), sound design, hingga finalisasi proyek.
- Storyboard: Sketsa visual berurutan yang menggambarkan setiap adegan dalam video atau film, mirip komik. Digunakan sebagai panduan selama proses syuting dan editing.
- Render: Proses komputasi untuk mengubah data mentah atau proyek editing menjadi format video akhir yang dapat diputar di berbagai platform.
- B-roll: Cuplikan tambahan yang disisipkan untuk melengkapi adegan utama, memberikan konteks visual, atau menyembunyikan transisi yang kurang mulus dalam narasi video.
- Gimbal: Perangkat stabilisasi kamera canggih yang memungkinkan perekaman video mulus tanpa guncangan, bahkan saat kamera bergerak cepat atau ekstrem.
- Color Grading: Proses artistik untuk menyesuaikan warna dan nada visual dalam video guna menciptakan suasana atau gaya tertentu, seringkali untuk menyampaikan emosi.
- Green Screen (Chroma Key): Teknik menggunakan latar belakang hijau (atau biru) untuk kemudian diganti dengan gambar atau video lain di tahap pascaproduksi.
Daftar ini hanyalah sebagian kecil dari ribuan istilah teknis yang digunakan para profesional di bidang ini. Mereka adalah bahasa sehari-hari yang harus dikuasai untuk bekerja secara efektif dan berkomunikasi secara presisi.
Dampak Kesalahpahaman di Ruang Sidang: Lebih dari Sekadar Bahasa
Potensi Ketidakadilan dan Bias dalam Penilaian
Insiden seperti yang melibatkan JPU dan videografer Amsal menimbulkan kekhawatiran serius tentang potensi ketidakadilan dalam proses hukum. Jika hakim atau jaksa tidak memahami terminologi dasar sebuah industri, bagaimana mereka bisa menilai kasus secara obyektif dan adil?
Kesalahpahaman dapat berujung pada interpretasi yang salah terhadap fakta, atau bahkan pada penilaian yang bias terhadap profesionalisme seseorang yang terlibat dalam kasus. Ini sangat berbahaya bagi integritas hukum.
Ini adalah risiko nyata yang dapat merugikan pihak-pihak yang terlibat, terutama jika kasusnya melibatkan kontrak, penipuan, sengketa hak cipta, atau bahkan pembuktian kerusakan di bidang kreatif yang membutuhkan pemahaman teknis mendalam.
Perlunya Pemahaman Lintas Disiplin untuk Penegak Hukum
Kasus JPU ini menjadi pengingat penting bagi para penegak hukum dan seluruh elemen masyarakat. Bahwa dunia terus berkembang dengan cepat, dan pemahaman lintas disiplin ilmu menjadi krusial di era modern.
Di era digital dan industri 4.0, profesi-profesi baru muncul dengan terminologi dan praktik unik yang belum ada sebelumnya. Tidak mungkin mengharapkan setiap orang memahami semuanya, namun upaya untuk belajar dan beradaptasi sangat diperlukan.
Sangat ideal jika ada mekanisme edukasi berkelanjutan bagi para profesional hukum, agar mereka tidak gagap teknologi dan jargon industri modern. Ini akan memastikan bahwa keadilan dapat ditegakkan dengan pemahaman yang komprehensif.
Respons Warganet dan Sentimen Publik: Suara dari Masyarakat Digital
Reaksi warganet terhadap video ini sangat beragam, namun didominasi oleh kekecewaan dan rasa geram. Banyak yang menyayangkan kurangnya pemahaman JPU terhadap bahasa yang dianggap “standar” di bidangnya.
Beberapa komentar bernada satir bahkan menyarankan agar JPU juga mempertanyakan istilah seperti “WhatsApp” atau “internet” karena bukan bahasa Indonesia asli. Hal ini menunjukkan betapa jauhnya kesenjangan persepsi yang terjadi di masyarakat.
Sentimen publik mayoritas mendukung sang videografer Amsal. Mereka merasa bahwa profesionalisme seseorang tidak boleh dipertanyakan hanya karena menggunakan terminologi yang diakui secara global dalam bidangnya.
“Itu bahasa standar industri kreatif, Pak! Jangan-jangan nanti ditanya apa itu ‘laptop’ atau ‘smartphone’?” tulis seorang warganet di kolom komentar, mencerminkan frustrasi kolektif dan mendesak adanya pemahaman yang lebih baik.
Pelajaran Berharga untuk Kita Semua: Menjembatani Kesenjangan
Insiden viral ini harus menjadi “wake-up call” bagi kita semua, bukan hanya bagi aparat penegak hukum. Ini menyoroti pentingnya keterbukaan, keinginan untuk terus belajar, dan adaptasi terhadap perkembangan zaman.
Di dunia yang semakin terhubung dan multidisiplin, kolaborasi antar disiplin ilmu menjadi kunci utama kemajuan. Membangun jembatan komunikasi dan pemahaman antara berbagai sektor adalah langkah esensial untuk masyarakat yang lebih inklusif.
Sebagai masyarakat, kita juga memiliki peran untuk tidak cepat menghakimi, namun justru mendorong edukasi dan pemahaman yang lebih baik terhadap berbagai profesi dan terminologinya yang khas. Ini demi terciptanya lingkungan yang saling mendukung.
Semoga kejadian ini bisa menjadi momentum berharga untuk meningkatkan literasi digital dan industri bagi semua pihak. Terutama bagi mereka yang memegang peran penting dalam sistem hukum kita, agar keadilan selalu berpihak pada kebenaran yang dipahami secara utuh dan modern.
Penulis Citra Lestari
Citra Lestari Jurnalis lapangan yang berfokus pada dinamika akar rumput dan pembangunan wilayah. Spesialis dalam mengulas modernisasi desa, ia tajam membedah adopsi teknologi tepat guna, pemanfaatan gadget untuk UMKM, hingga penetrasi infrastruktur digital di pelosok. Citra menjadi penghubung terpercaya antara aspirasi lokal dan transformasi teknologi, menyuarakan potensi daerah di tengah arus digitalisasi.

Saat ini belum ada komentar