Geger DPR! Pemuda Pancasila Lebih Top dari BPIP? Ini Dia Fakta Mengejutkan di Balik Sorotan Tajam!
- account_circle Redaksi TilongKabila
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sebuah pernyataan mengejutkan dari Gedung DPR RI baru-baru ini menyita perhatian publik. Anggota Komisi X DPR, Edison Sitorus, secara blak-blakan menyoroti eksistensi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), sebuah lembaga negara yang mengemban tugas krusial.
Dalam pernyataannya yang lugas, Edison Sitorus membandingkan tingkat popularitas BPIP dengan salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) yang cukup dikenal, yaitu Pemuda Pancasila. Ia bahkan menyebut, “Pemuda Pancasila lebih dikenal daripada BPIP.”
Pernyataan ini sontak memicu beragam respons. Wakil Ketua MPR, Ahmad Basarah, menanggapi sorotan tersebut dengan menyebutnya sebagai sebuah ‘satire’. Ini menyiratkan adanya kritik tajam yang terselubung di balik pertanyaan lugas itu.
Kontroversi yang Menggelitik: Ketika BPIP Kalah Populer dari Ormas
Kritik dari Edison Sitorus ini bukan sekadar lontaran biasa. Ini adalah sebuah refleksi mendalam tentang sejauh mana lembaga negara yang dibentuk untuk mengawal ideologi Pancasila telah berhasil mencapai misinya di tengah masyarakat.
Bagaimana mungkin sebuah ormas yang kerap diasosiasikan dengan citra tertentu bisa memiliki tingkat pengenalan yang jauh lebih tinggi dibandingkan badan resmi negara yang memiliki anggaran dan mandat besar?
Pesan Tersirat di Balik Perbandingan
Perbandingan ini membawa kita pada pertanyaan fundamental: Apakah BPIP telah menjalankan fungsinya dengan optimal? Atau adakah celah dalam strategi komunikasi dan pendekatan mereka kepada publik?
Ini juga bisa diartikan sebagai sentilan halus agar BPIP berbenah, meningkatkan efektivitas programnya, serta lebih masif dalam menyentuh lapisan masyarakat.
Siapa Sebenarnya BPIP? Mandat dan Realita di Lapangan
Untuk memahami inti permasalahan, kita perlu mengenal lebih jauh tentang BPIP. Badan ini dibentuk dengan tujuan mulia, yakni memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Lembaga ini merupakan metamorfosis dari Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) yang didirikan pada tahun 2017. Kemudian, pada tahun 2018, statusnya ditingkatkan menjadi BPIP melalui Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2018.
Mengenal BPIP Lebih Dekat
Mandat utama BPIP adalah pembinaan ideologi Pancasila, yang meliputi perumusan arah kebijakan, koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian pelaksanaan pembinaan ideologi Pancasila secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Dengan anggaran negara yang dialokasikan, BPIP diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga Pancasila tetap relevan dan mengakar kuat di hati setiap warga negara, khususnya generasi muda.
Tantangan dan Performa Publik BPIP
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pengenalan BPIP di kalangan masyarakat masih tergolong rendah. Banyak yang mungkin belum memahami apa itu BPIP, apa tugasnya, dan apa saja program yang telah dijalankannya.
Salah satu tantangan terbesar mungkin terletak pada cara BPIP mengkomunikasikan isu ideologi yang seringkali dianggap abstrak atau berat. Dibutuhkan pendekatan yang lebih kreatif dan relevan agar Pancasila tidak hanya menjadi slogan, tetapi nilai yang hidup dan diamalkan.
Menguak Sosok Pemuda Pancasila: Antara Citra dan Kontroversi
Di sisi lain spektrum, ada Pemuda Pancasila, sebuah organisasi kemasyarakatan yang memiliki sejarah panjang dan jejak yang kuat dalam peta sosial politik Indonesia.
Didirikan pada tahun 1959, Pemuda Pancasila dikenal luas dengan seragam loreng oranye dan hitamnya yang khas. Mereka memiliki struktur organisasi yang masif, tersebar hingga ke berbagai pelosok daerah.
Sejarah Singkat dan Pengaruh Pemuda Pancasila
Awalnya, Pemuda Pancasila terbentuk sebagai sayap paramiliter dari Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), dan terlibat aktif dalam konfrontasi politik, terutama dalam gerakan anti-komunis di era 1960-an.
Kini, mereka sering terlihat dalam berbagai kegiatan sosial, pengamanan, hingga partisipasi dalam isu-isu politik lokal maupun nasional, membuat keberadaan mereka sulit diabaikan dan mudah dikenali.
Mengapa Mereka Begitu Dikenal?
Popularitas Pemuda Pancasila tidak lepas dari beberapa faktor. Pertama, keberadaan visual yang kuat melalui seragam dan atributnya yang mudah dikenali dan sering terpampang di ruang publik.
Kedua, kehadiran mereka di tingkat akar rumput melalui cabang-cabang di daerah, serta keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan masyarakat, entah itu pengamanan acara, bakti sosial, atau bahkan demonstrasi.
Ketiga, seringkali citra mereka juga terbangun dari kontroversi atau insiden yang melibatkan anggotanya, yang kemudian menjadi sorotan media dan perbincangan publik, secara tidak langsung meningkatkan pengenalan.
Mengapa Perbandingan Ini Penting? Refleksi untuk Bangsa
Perbandingan antara BPIP dan Pemuda Pancasila oleh anggota DPR ini adalah sebuah wake-up call yang penting bagi negara dan masyarakat. Ini menyoroti efektivitas lembaga negara dalam menjalankan fungsinya.
Jika lembaga resmi seperti BPIP tidak mampu menancapkan eksistensinya sekuat ormas, ini menunjukkan adanya pekerjaan rumah besar dalam strategi pembinaan ideologi Pancasila yang lebih mengena.
Pesan Tersirat dari Kritik DPR
Pernyataan Edison Sitorus harus dilihat sebagai kritik konstruktif. Ini adalah desakan agar BPIP tidak hanya berfokus pada tataran kebijakan, tetapi juga pada implementasi dan dampaknya yang terasa langsung oleh masyarakat.
Ahmad Basarah benar, ini adalah satire. Satire yang mengingatkan bahwa ideologi tidak bisa hanya dibina secara formalistik, tetapi juga harus membumi, disosialisasikan dengan cara yang relevan, dan dicontohkan melalui tindakan nyata.
Ideologi Pancasila di Tengah Arus Modernisasi
Di era digital dan globalisasi ini, tantangan dalam membumikan Pancasila semakin kompleks. Generasi muda membutuhkan pendekatan yang berbeda, yang tidak kaku dan mampu menjawab tantangan zaman.
Penting bagi BPIP untuk belajar dari ormas, bagaimana mereka membangun koneksi, entah dengan citra positif atau negatif, tetapi yang jelas mereka punya cara untuk dikenal dan diingat. BPIP perlu menemukan ‘formula’nya sendiri yang lebih positif, inklusif, dan inspiratif.
Pada akhirnya, perdebatan ini seharusnya menjadi pemicu bagi BPIP untuk melakukan introspeksi dan inovasi. Tujuannya adalah agar Pancasila tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar menjadi jiwa bangsa yang dikenal, dipahami, dan diamalkan oleh setiap individu, jauh melampaui popularitas organisasi manapun, dan menjadi fondasi kokoh Indonesia di masa depan.
Penulis Redaksi TilongKabila
Tilongkabila.id: Bicara Fakta, Bukan Retorika. Media independen yang berani mengupas tuntas isu publik secara kritis, tajam, dan transparan tanpa kompromi.

Saat ini belum ada komentar