Pungli di Pelabuhan Batam: Walkot Amsakar Tegas, Demi Citra Internasional dan Ekonomi Gemilang!
- account_circle Redaksi TilongKabila
- calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
- visibility 7
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan tegas.
Beliau meminta agar aksi pungutan liar (pungli) terhadap Warga Negara Asing (WNA) di pelabuhan tidak boleh terulang kembali.
Pernyataan ini bukan sekadar imbauan, melainkan sebuah penekanan serius terhadap praktik yang dapat merusak citra Batam di mata dunia.
Mengingat posisi Batam sebagai gerbang investasi dan pariwisata internasional, praktik pungli adalah ancaman nyata bagi kemajuan daerah.
Batam: Gerbang Ekonomi dan Pariwisata Strategis
Mengapa Batam Sangat Krusial?
Batam, dengan statusnya sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau sebelumnya Free Trade Zone (FTZ), memegang peran vital.
Kota ini merupakan salah satu pilar utama perekonomian Indonesia, terutama dalam menarik investasi asing dan wisatawan.
Lokasinya yang sangat strategis, berdekatan langsung dengan Singapura dan Malaysia, menjadikannya magnet bagi pelaku bisnis dan pelancong.
Setiap tahun, ribuan WNA tiba di Batam melalui pelabuhan-pelabuhan utama seperti Harbour Bay, Batam Centre, dan Sekupang.
WNA sebagai Sumber Daya Utama
Kehadiran WNA di Batam, baik sebagai investor, tenaga ahli, maupun wisatawan, adalah penopang signifikan bagi perputaran ekonomi lokal.
Mereka membawa modal, menciptakan lapangan kerja, dan membelanjakan uang yang menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, hingga UMKM.
Oleh karena itu, kenyamanan dan keamanan WNA menjadi prioritas utama demi menjaga iklim investasi dan pariwisata tetap kondusif.
Ancaman Pungli: Bom Waktu bagi Reputasi Batam
Definisi dan Modus Pungli
Pungutan liar, atau pungli, adalah tindakan memungut biaya tanpa dasar hukum yang jelas atau di luar tarif resmi.
Di pelabuhan, modus pungli bisa sangat beragam, mulai dari permintaan uang ‘pelicin’ untuk mempercepat proses keimigrasian atau bea cukai.
Bisa juga berupa biaya ‘bantuan’ pengangkut barang yang tidak diminta, hingga ancaman terselubung jika tidak memenuhi permintaan oknum.
Dampak Negatif Pungli terhadap WNA dan Batam
Bagi WNA, pengalaman pungli di pelabuhan adalah pintu gerbang menuju persepsi negatif terhadap Batam, bahkan Indonesia.
Hal ini menciptakan rasa tidak aman, ketidaknyamanan, dan kekecewaan, yang pada akhirnya dapat membuat mereka enggan kembali.
Dalam jangka panjang, praktik pungli dapat merusak reputasi Batam sebagai tujuan investasi yang transparan dan destinasi wisata yang ramah.
Investor akan berpikir dua kali untuk menanamkan modalnya jika melihat ketidakpastian hukum dan praktik koruptif di tingkat bawah.
Citra yang buruk akan menghambat aliran investasi baru dan berpotensi menyebabkan relokasi investasi yang sudah ada.
Langkah Tegas Kepala Daerah dan BP Batam
Komitmen Amsakar Achmad
Sebagai Wali Kota dan Kepala BP Batam, Amsakar Achmad memiliki otoritas dan tanggung jawab ganda untuk memastikan Batam bersih dari praktik haram ini.
Pernyataan beliau adalah sinyal kuat bagi seluruh jajaran pegawai, aparat penegak hukum, dan pihak terkait di pelabuhan.
"Aksi pungli ke Warga Negara Asing (WNA) di pelabuhan tidak boleh terulang!" demikian inti pesan tegas yang disampaikan.
Hal ini menunjukkan komitmen serius pemerintah daerah dan BP Batam untuk menciptakan lingkungan yang adil dan berintegritas.
Upaya Pemberantasan Pungli
Pemerintah Indonesia sebenarnya telah memiliki Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli).
Satgas ini bertugas untuk memberantas praktik pungli di berbagai lini pelayanan publik, termasuk di pelabuhan.
Namun, peran aktif kepala daerah dan BP Batam di tingkat lokal sangat krusial dalam menggerakkan roda pemberantasan pungli secara efektif.
Koordinasi antarlembaga seperti Imigrasi, Bea Cukai, Polisi Perairan, Otoritas Pelabuhan, dan BP Batam harus diperkuat.
Peningkatan pengawasan internal, penindakan tegas terhadap pelaku, serta edukasi berkelanjutan bagi petugas adalah kunci.
Membangun Batam yang Lebih Baik: Visi ke Depan
Lingkungan yang Kondusif untuk Semua
Mewujudkan Batam sebagai kota yang bebas pungli berarti menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi semua pihak.
WNA akan merasa lebih dihargai dan aman, yang pada gilirannya akan menarik lebih banyak investasi dan wisatawan.
Masyarakat lokal pun akan merasakan dampak positifnya melalui pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan lapangan kerja yang lebih banyak.
Peran Aktif Masyarakat
Pemberantasan pungli bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama.
Masyarakat, termasuk para pelaku usaha dan WNA itu sendiri, diharapkan untuk tidak ragu melaporkan jika menemukan praktik pungli.
Saluran pengaduan harus dibuat mudah diakses dan responsif, memastikan setiap laporan ditindaklanjuti secara serius.
Dengan demikian, kepercayaan publik terhadap integritas pelayanan di Batam akan semakin meningkat.
Perintah tegas Wali Kota Amsakar Achmad adalah langkah awal yang sangat penting.
Ini adalah momentum untuk seluruh elemen di Batam bersatu padu, memastikan setiap jengkal pelayanan publik bebas dari praktik pungli.
Mari bersama-sama wujudkan Batam sebagai kota yang benar-benar modern, berintegritas, dan ramah bagi dunia.
Penulis Redaksi TilongKabila
Tilongkabila.id: Bicara Fakta, Bukan Retorika. Media independen yang berani mengupas tuntas isu publik secara kritis, tajam, dan transparan tanpa kompromi.

Saat ini belum ada komentar